Ketua Umum kelompok relawan Projo, Budi Arie Setiadi, baru-baru ini menjelaskan arti di balik nama organisasinya. Kelompok relawan yang dikenal loyal kepada Jokowi ini menegaskan bahwa Projo bukan merupakan singkatan dari ‘Pro Jokowi’, meskipun banyak media yang menyebutnya demikian.
Budi menyatakan bahwa nama Projo berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti ‘negeri’, dan dalam bahasa Jawa Kawi berarti ‘rakyat’. Secara keseluruhan, Projo ini mencerminkan kecintaan terhadap negara dan masyarakat.
Belakangan ini, Budi juga mengungkapkan rencana untuk mengubah logo Projo. Logo yang saat ini menggambarkan siluet wajah Presiden Joko Widodo akan diubah agar tidak terkesan mengultuskan individu.
Budi menjelaskan bahwa perubahan logo tersebut merupakan salah satu langkah Projo dalam melakukan transformasi organisasi. Hal ini juga untuk menegaskan bahwa keberadaan Projo tetap berkait erat dengan Jokowi di pentas politik nasional.
Kehadiran Projo tidak hanya berkaitan dengan kiblat politik Jokowi, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata dari masyarakat terhadap kepemimpinan yang diusungnya. Dengan komitmen ini, Projo berusaha menunjukkan bahwa mereka adalah gerakan politik yang berakar dari keinginan rakyat.
Perkembangan dan Sejarah Kelompok Relawan Projo di Indonesia
Kelompok relawan Projo pertama kali dideklarasikan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Projo lahir dari keinginan masyarakat yang merasa kecewa atas wacana pencalonan Megawati dan Jokowi yang dinilai tidak memadai penjeratan simpatisan.
Saat itu, Jokowi baru menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan namanya mulai bersinar setelah terpilih pada Pilgub Jakarta 2012. Dukungan untuk Jokowi semakin menguat dari berbagai elemen masyarakat yang ingin melihat perubahan dalam pemerintahan.
Projo berkomitmen untuk mendukung Jokowi sebagai calon presiden pada Pilpres 2014. Keputusan untuk mendukung Jokowi juga tercermin dari perubahan arah politik PDIP, yang pada gilirannya mengusung Jokowi bersama Jusuf Kalla dalam pencalonan presiden.
Selama proses Pilpres 2014, Jokowi bersaing dengan Prabowo Subianto yang mengusung Hatta Rajasa. Dalam pertarungan tersebut, Jokowi dan JK keluar sebagai pemenang dan mengukuhkan Projo sebagai salah satu kekuatan politik yang berpengaruh.
Setelah kemenangan tersebut, Projo semakin solid mendukung Jokowi, termasuk dalam Pilpres 2019. Pada kesempatan itu, Jokowi menggaet KH Ma’ruf Amin dan kembali berhadapan dengan Prabowo, menjadikan Projo sebagai penggerak utama dalam kemenangan Jokowi-Ma’ruf.
Transformasi dan Tantangan yang Dihadapi Projo Sejak Berdiri
Dengan berkembangnya waktu, Projo juga mengalami sejumlah transformasi dan tantangan yang perlu dihadapi. Setelah Pilpres 2019, Budi Arie Setiadi ikut bergabung dalam kabinet sebagai Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Pergeseran peran ini membawa Projo ke dalam dinamika politik yang lebih luas. Namun, tidak lama setelah itu, Budi mendapatkan penunjukan sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika yang menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kapabilitasnya.
Pada menjelang Pilpres 2024, Projo dihadapkan pada konflik internal yang cukup signifikan. Meskipun pernah berkolaborasi dengan PDIP, saat itu mereka merapat kepada Prabowo yang sebelumnya merupakan lawan politik.
Keputusan untuk berpisah dengan PDIP, di mana mereka sebelumnya sama-sama mendukung Jokowi, menjadi hal yang memorable bagi perjalanan Projo. Pada pemilihan tersebut, PDIP justru mengusung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, meninggalkan Projo dalam lembaga politik yang tersendiri.
Walau demikian, Projo tetap menganut semangat kolaborasi, bahkan saat Prabowo bersanding dengan Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi. Ini menandakan bahwa hubungan tersebut tetap berlangsung meskipun ada perubahan di tingkat partai politik.
Kaitan Erat Projo dengan Joko Widodo di Setiap Pemilihan Umum
Konteks politik di Indonesia menghadirkan perubahan yang sering kali tidak terduga. Namun, keterkaitan antara Projo dan Jokowi selalu menjadi keunikan tersendiri. Masyarakat terus menanti bagaimana hasil dari setiap pemilihan umum berpengaruh pada posisi dan arahan organisasi ini.
Setelah terpilihnya Prabowo dan Gibran, Budi kembali mendapatkan posisi penting dalam kabinet sebagai Menteri Koperasi. Namun, perjalanan ini tidak berlangsung mulus karena ia mengalami reshuffle yang mengubah susunan kabinet pemerintahan.
Setelah reshuffle tersebut, Budi digantikan oleh politisi dari partai lain. Ini menunjukkan bahwa dinamika politik sering kali bisa berbalik dalam waktu yang singkat. Projo tetap beradaptasi dengan situasi dan berupaya memegang teguh visinya.
Untuk ke depan, Projo akan terus mencari cara agar tetap berkontribusi dalam politik nasional tanpa meninggalkan akar yang telah mereka tanam sejak awal. Organisasi ini bertujuan untuk tetap berfokus pada kepentingan rakyat dan nasional.
Dengan segala tantangan dan perjalanan yang dilalui, Projo tetap berkomitmen untuk melayani rakyat sesuai dengan visi yang telah mereka pegang teguh. Transformasi mereka dalam setiap periode menunjukkan niat baik untuk memperkuat demokrasi dan menyuarakan aspirasi masyarakat.




