Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan bahwa 23 kabupaten dan kota di Sumatra telah menetapkan status transisi darurat. Hal ini merupakan langkah penting untuk memindahkan fokus penanganan bencana dari fase tanggap darurat menuju tahap awal pemulihan yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa status transisi ini menandakan perubahan dalam strategi penanganan bencana. Dengan langkah ini, diharapkan more daerah dapat segera berpindah ke transisi darurat, mempercepat proses penanganan yang dibutuhkan masyarakat.
Muhari merinci bahwa daerah yang telah menetapkan status ini tersebar secara proporsional, dengan enam kabupaten di Aceh, delapan di Sumatra Utara, dan sembilan di Sumatra Barat. Ini menjadi indikasi bahwa penanganan bencana dilakukan dengan tepat sasaran sesuai kebutuhan setiap daerah.
Proses Penetapan Status Transisi Darurat yang Diharapkan
Penetapan status transisi darurat bukanlah hal yang sederhana, melainkan melalui proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak. Sebanyak tujuh kabupaten/kota lainnya kini masih dalam tahap pengajuan surat keputusan (SK) untuk peralihan status dari tanggap darurat.
Di tahap transisi ini, BNPB akan lebih fokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak. Ini mencakup pembangunan hunian sementara dan tetap, serta pembersihan lingkungan untuk memastikan kualitas hidup pengungsi dapat kembali pada posisi yang wajar.
Muhari juga menekankan bahwa revitalisasi infrastruktur sangat penting untuk meminimalisasi dampak bencana yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan langkah ini, harapannya adalah agar masyarakat dapat segera pulih dan beradaptasi dengan kondisi baru mereka.
Kondisi Terkini Terkait Korban Bencana di Sumatra
Hingga tanggal 1 Januari, jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di Sumatra mengalami peningkatan. Total korban jiwa tercatat sebanyak 1.157 orang, menunjukkan betapa seriusnya dampak dari bencana ini di kawasan tersebut.
Lebih rinci, Aceh mencatat pelemahan yang cukup besar dengan 530 jiwa terkonfirmasi meninggal dan 30 orang lainnya masih hilang. Informasi mengenai kondisi korban ini sangat diperlukan untuk fokus penanganan yang lebih baik di masing-masing daerah.
Di Sumatra Utara, total korban jiwa mengikuti angka tinggi dengan 365 orang meninggal dunia dan 60 orang hilang. Sementara itu, wilayah Sumatra Barat juga menunjukkan angka yang mencemaskan dengan 262 jiwa meninggal dan 74 orang yang masih dalam pencarian.
Operasi Pencarian dan Dampak terhadap Pengungsi
Operasi pencarian dan penyelamatan bagi mereka yang hilang masih terus berlangsung. BNPB berkomitmen untuk mengupayakan agar jumlah korban yang belum ditemukan dapat terus berkurang dalam waktu dekat.
Selain itu, jumlah pengungsi juga terus meningkat, sehingga memperburuk kondisi banyak keluarga di daerah terdampak. Sejak awal bencana, total pengungsi kini mencapai 380.360 jiwa yang tersebar di ketiga provinsi tersebut.
BNPB berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan yang diperlukan kepada para pengungsi, termasuk penyediaan tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya. Dukungan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk mengatasi situasi ini secara efektif dan efisien.




