Isu mengenai child grooming selalu menarik perhatian masyarakat, terutama setelah penerbitan buku memoir yang mengangkat tema tersebut. Situasi ini memicu diskusi lebih lanjut tentang pentingnya kesadaran dan pemahaman tentang perilaku yang merugikan anak-anak.
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Sri Nurherwati, menjelaskan bahwa child grooming sering kali kurang dipahami sebagai suatu kejahatan. Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang, tindakan ini tetap memiliki dasar hukum yang kuat.
Perbuatan child grooming telah dicakup dalam berbagai aturan hukum di Indonesia, termasuk dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Ini menunjukkan bahwa ada usaha untuk melindungi anak-anak dari berbagai bentuk eksploitasi dan kekerasan yang mengancam keselamatan mereka.
Dampak Sosial dari Child Grooming di Kalangan Anak
Dampak dari child grooming tidak sekadar fisik, tetapi juga psikologis. Anak-anak yang menjadi korban sering mengalami trauma mendalam yang dapat memengaruhi perkembangan mereka di masa depan.
Trauma akibat eksploitasi seksual dapat menyebabkan masalah mental seperti depresi dan kecemasan. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam tentang dampak ini sangat diperlukan oleh orang tua dan masyarakat.
Sri Nurherwati menyoroti bahwa dalam laporan LPSK, terjadi peningkatan jumlah korban yang mengadukan tindakan kekerasan seksual. Hal ini mencerminkan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok yang rentan dan memerlukan perlindungan lebih.
Data Korban Child Grooming Berdasarkan Aduan di Tahun 2025
Selama tahun 2025, LPSK menerima total 1.776 aduan dari korban kekerasan seksual, dengan sebagian besar adalah anak-anak. Dari jumlah tersebut, 1.464 pemohon berstatus sebagai anak-anak yang memerlukan perlindungan dan dukungan hukum.
Data ini tentunya menggambarkan urgensi perhatian terhadap isu kekerasan seksual terhadap anak. Orang dewasa yang melaporkan kasus juga tidak sedikit, tetapi anak-anak tetap menjadi perhatian utama.
Dalam arus laporan tersebut, terdapat juga kasus eksploitasi seksual anak yang mencapai 59 permohonan serta lima permohonan terkait perdagangan anak. Ini menunjukkan ada pola yang mengkhawatirkan yang perlu ditangani lebih serius.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat tentang Perlindungan Anak
Untuk mengatasi masalah child grooming, penting bagi masyarakat untuk lebih memahami dan mengenali tanda-tanda awal dari tindakan tersebut. Edukasi dalam keluarga harus dimulai sejak dini agar anak-anak bisa melindungi diri mereka sendiri.
Peran orang tua sangat penting dalam memberikan pengetahuan kepada anak tentang batasan dan hak mereka. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga merasa memiliki suara dalam situasi yang mengancam keselamatan mereka.
Selain itu, memperkuat kerjasama antara lembaga pemerintah, organisasi, dan masyarakat juga menjadi langkah penting. Dengan bersinergi, upaya perlindungan anak dapat dilakukan secara lebih efektif dan terintegrasi.




