Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memberikan pernyataan penting terkait pemulihan pendidikan di wilayah yang terkena dampak bencana di Sumatra Utara. Ia memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar akan dimulai kembali pada 5 Januari 2026, menandai langkah positif bagi ribuan siswa yang terkena dampak.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sekitar 1.215 sekolah terdampak, namun mayoritas telah siap untuk beroperasi kembali. Sekolah-sekolah yang siap beroperasi mencapai 1.157 atau 95,23 persen dari total yang terkena bencana.
Ia merinci kondisi beberapa sekolah yang masih memerlukan waktu untuk persiapan, termasuk proses pembersihan dari banjir dan tanah longsor yang terjadi. Sebanyak 19 sekolah, atau sekitar 1,6 persen, masih menggunakan tenda untuk kegiatan belajar mengajar.
Langkah-langkah Pemulihan Pendidikan di Sumatra Utara
Pemulihan pasca bencana adalah proses yang kompleks dan memerlukan kerjasama berbagai pihak. Abdul Mu’ti menekankan perlunya persiapan matang agar siswa bisa kembali belajar dengan nyaman dan aman.
Meski sebagian sekolah masih dalam proses pembersihan, ia optimis bahwa semua akan rampung sebelum tahun ajaran baru dimulai. “Kita memiliki kebijakan untuk mendukung pembelajaran di sekolah yang belum sepenuhnya pulih,” katanya.
Kementerian Pendidikan juga telah menyiapkan kurikulum yang dirancang khusus untuk situasi ini. Kurikulum tersebut bertujuan agar setiap siswa tetap mendapatkan pendidikan meski dalam kondisi darurat.
Peran Masyarakat dalam Pemulihan Pendidikan
Dalam situasi seperti ini, dukungan dari masyarakat menjadi vital. Abdul Mu’ti mengapresiasi kerja keras berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat setempat, dalam upaya mempercepat pemulihan pendidikan.
Masyarakat diharapkan turut berpartisipasi aktif dalam mendukung pendidikan anak-anak seusai bencana. Dengan kolaborasi yang kuat, proses adaptasi terhadap situasi baru akan lebih mudah dilakukan.
Bekerja bersama dalam upaya pemulihan akses pendidikan akan memastikan bahwa semua anak mendapatkan hak mereka untuk belajar dengan baik. Dukungan masyarakat juga diharapkan meningkatkan semangat belajar siswa yang terdampak.
Kebijakan Fleksibel untuk Pembelajaran Adaptif
Dalam menghadapi bencana, pendekatan pembelajaran harus bersifat adaptif dan fleksibel. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kurikulum pendidikan yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Ia mengajak semua pihak agar tidak kehilangan semangat dalam belajar meski di tengah kesulitan. “Kita harus memastikan bahwa semangat untuk bersekolah tetap ada,” tuturnya.
Pendidikan yang berkelanjutan meskipun dalam situasi sulit adalah salah satu tujuan utama Kementerian Pendidikan. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat terus mendapatkan pendidikan yang berkualitas.




