loading…
Menag Nasaruddin Umar meninjau proses pembersihan lumpur di MIN 43 Bireuen. Foto/Kemenag.
JAKARTA – Madrasah di sejumlah kabupaten/kota terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh mulai kembali bersiap melaksanakan pembelajaran tatap muka 5 Januari mendatang. Hal ini untuk memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat.
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Khairul Azhar, menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dihimpun tim tanggap darurat, 437 dari 500 madrasah yang terdampak bencana dinyatakan siap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara langsung.
“Alhamdulillah, mayoritas madrasah terdampak sudah siap melaksanakan PBM. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak kita,” ujar Khairul yang juga Kepala Bidang Pendidikan Madrasah di Kanwil Kemenag Aceh, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (3/1/2025).
Meski demikian, masih terdapat 63 madrasah yang belum siap PBM, tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, dan Bener Meriah.
Pendidikan adalah hak fundamental setiap anak, yang tidak boleh terputus meskipun dalam situasi yang sulit seperti bencana alam. Di Aceh, upaya pemulihan pendidikan pasca bencana hidrometeorologi menunjukkan ketahanan komunitas dan dedikasi para pendidik. Keberanian dalam menghadapi tantangan ini patut dihargai dan didorong agar terus berlanjut.
Adanya 437 madrasah yang telah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Ini bukan hanya terkait kesiapan fisik bangunan, tetapi juga kesiapan mental guru dan tenaga pendidik lainnya. Mereka berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak Aceh yang terkena dampak bencana.
Bagi setiap anak, pendidikan adalah kunci membuka masa depan yang lebih baik. Madrasah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam memenuhi hak tersebut. Dengan pembukaan kembali pembelajaran tatap muka, diharapkan kehadiran mereka di kelas dapat mengurangi trauma akibat bencana yang dialami.
Mengembalikan Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Pasca Bencana
Proses pemulihan pembelajaran di madrasah tidaklah mudah, tetapi tidak mustahil. Berbagai pihak terlibat dalam memastikan pendidikan dapat berlanjut, mulai dari pemerintah, lembaga non-pemerintah, hingga masyarakat setempat. Keterlibatan ini adalah refleksi solidaritas yang tinggi dalam membangun kembali pendidikan di daerah terdampak.
Tim Tanggap Darurat dari Kanwil Kemenag telah melakukan peninjauan dan pendataan kondisi madrasah. Hasilnya, sebagian besar madrasah sudah memenuhi syarat untuk kembali beroperasi. Hal ini menunjukkan adanya persiapan yang baik dari semua pihak, baik dari segi sarana dan prasarana maupun kesiapan tenaga pendidiknya.
Namun, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi, terutama bagi 63 madrasah yang belum siap mengenakan pembelajaran tatap muka. Upaya harus terus dilakukan untuk memastikan mereka juga dapat segera kembali aktif. Kerja sama antara berbagai unsur sangat diperlukan untuk mengatasi kendala yang ada.
Pentingnya Dukungan Masyarakat dan Pemerintah
Peran masyarakat dalam mendukung pendidikan sangat penting, terutama dalam situasi darurat seperti ini. Dukungan dan kerjasama antara orang tua, komunitas setempat, serta lembaga pendidikan dapat mempercepat pemulihan. Keterlibatan masyarakat memastikan bahwa anak-anak mendapatkan perhatian dan waktu yang mereka butuhkan untuk menyesuaikan diri kembali.
Pemerintah melalui Kementerian Agama juga ikut memberikan dukungan dengan merancang program pemulihan pendidikan. Program ini termasuk pelatihan bagi guru dan penyediaan material pembelajaran yang dibutuhkan. Dengan dukungan yang tepat, diharapkan setiap madrasah dapat pulih dan berfungsi secara optimal.
Literasi dan pendidikan karakter juga menjadi fokus utama dalam pemulihan ini. Ketika anak-anak kembali ke madrasah, mereka perlu diajarkan tidak hanya pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan untuk menghadapi kesulitan dan tantangan di masa depan. Pendidikan yang berkualitas akan membantu mereka berkembang menjadi individu yang tangguh.
Tantangan yang Dihadapi dalam Pemulihan Pendidikan
Meskipun banyak madrasah yang sudah siap, tetap ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan. Misalnya, kondisi sarana pendidikan yang bisa saja belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana. Beberapa kelas mungkin membutuhkan perbaikan lebih lanjut untuk memastikan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Kendala lainnya adalah kesehatan mental siswa dan guru. Trauma akibat bencana dapat memengaruhi proses belajar mengajar. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih humanistik dalam mendukung siswa dan guru agar dapat pulih secara emosional.
Hal ini menuntut perhatian khusus dari semua pihak agar pendidikan kembali pulih dan berkembang. Kegiatan psikososial bisa menjadi solusi untuk membantu mereka beradaptasi. Sekolah bisa menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar dan berinteraksi.




