loading…
Tim relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK), bersama warga setempat, menempuh perjalanan darat ekstrem selama enam jam untuk menyalurkan bantuan logistik ke Desa Bergang pada 4 Desember 2025. Peristiwa bencana alam yang mengguncang Aceh pada 26 November 2025 menyebabkan banyak kecamatan terisolasi, dan situasi ini mendorong langkah heroik tim relawan.
Selama tujuh hari berikutnya, beberapa kecamatan di Aceh Tengah, seperti Ketol, hanya dapat diakses melalui jalur udara dan sungai. Di tengah kesulitan ini, tim relawan memulai evakuasi terhadap warga dari beberapa desa yang terkena dampak besar, termasuk Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek.
Mereka berusaha mengatasi tantangan serius berupa akses yang lumpuh total akibat longsor dan puing-puing yang menghalangi jalan. Di sepanjang rute, ditemukan sedikitnya 14 titik longsor yang membuat kendaraan tidak bisa bergerak maju.
Proses Evakuasi yang Penuh Risiko bagi Warga dan Relawan
Akses menuju desa-desa tersebut benar-benar terputus, dan ratusan warga terjebak di lokasi tersebut berharap pada bantuan dari tim relawan yang datang. Sebagian bantuan hanya dapat disuplai lewat udara, namun upaya tersebut terkendala oleh adanya longsor di area pendaratan.
Pada saat yang sama, harapan muncul ketika tim relawan Mapala Leuser USK bersatu dengan masyarakat setempat untuk memberikan bantuan. Dengan tekad kuat, mereka menempuh rute yang sangat sulit, menyusuri hutan dan menyeberangi sungai yang mengalir deras.
Dari Posko Tepin Mane, perjalanan dilanjutkan dengan melewati berbagai rintangan yang membuat mereka harus berjuang keras. Salah satu relawan, Muslim Ruhdi, menggambarkan tantangan berat yang mereka hadapi, mulai dari melintasi jembatan yang rusak hingga menghadapi keadaan cuaca buruk.
Bantuan Logistik yang Sangat Diperlukan di Desa-Desa Terisolasi
Di Desa Bergang, situasi sangat mendesak, dan warga memerlukan bantuan logistik segera untuk bertahan hidup. Tim relawan berfokus pada penyaluran makanan, obat-obatan, dan bantuan lain yang dapat membantu warga mengatasi keadaan darurat ini.
Dengan setiap langkah, mereka mengumpulkan keberanian untuk melawan rasa lelah dan ketakutan yang terus menghantui. Setiap kali ada kesempatan, mereka berkomunikasi dengan warga untuk memastikan bantuan dapat langsung sampai ke tangan yang tepat.
Pada malam hari, ketika suhu mulai menurun, relawan memastikan semua bantuan disalurkan dengan aman. Keberanian mereka dalam mengarungi situasi sulit tidak hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga mengangkat harapan di tengah bencana.
Pentingnya Kerjasama Komunitas dalam Menghadapi Bencana
Kerjasama antara tim relawan Mapala dan warga setempat menjadi kunci untuk kelangsungan hidup dalam situasi krisis seperti ini. Mereka belajar untuk saling bergantung dan berkoordinasi dalam upaya memberikan bantuan yang tepat waktu.
Dengan membangun jaringan komunikasi yang baik, mereka dapat berbagi informasi mengenai kebutuhan mendesak warga serta mengorganisasi bantuan yang lebih efisien. Koordinasi ini tidak hanya mempercepat proses bantuan, tetapi juga mempererat rasa solidaritas di antara mereka.
Selain bantuan fisik, kekuatan psikologis juga sangat diperlukan. Tim relawan berusaha memberikan dukungan emosional kepada warga yang berjuang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian akibat bencana.




