Hari ini, teknologi dan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, meski membawa banyak kemudahan, dampaknya terhadap kesehatan mental, khususnya dalam hal kecemasan, mulai terasa kian meresahkan.
Dalam konteks ini, pemahaman tentang bagaimana teknologi berperan penting dalam kesehatan mental sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu, pembahasan seperti yang disampaikan di Kongres Nasional XI Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menjadi sangat relevan.
Acara yang berlangsung di Makassar pada 6 hingga 9 November 2025 lalu ini menghadirkan banyak tokoh dalam bidang kesehatan mental. Salah satu isu utama yang dibahas adalah bagaimana teknologi bisa berfungsi sebagai solusi, sekaligus menjadi sumber masalah bagi kesehatan mental individu.
Menyelami Kedalaman Kecemasan di Era Digital
Kecemasan di era digital kini semakin umum, terutama di kalangan generasi muda. Belum lagi, eksposur terhadap informasi dan tekanan sosial yang bersumber dari platform media sosial turut memperburuk keadaan.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen anak muda mengalami gejala gangguan kecemasan. Gejala ini sering kali diperburuk oleh konstanta stres yang diciptakan oleh interaksi di media sosial.
Tidak sedikit individu merasa terisolasi meski terhubung secara digital. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan manusiawi dalam menangani isu kecemasan, di mana hubungan tatap muka tetap menjadi landasan yang kuat.
Berbagai faktor, termasuk tekanan untuk selalu tampil sempurna, juga memberi dampak negatif. Oleh karena itu, memahami konteks kegelisahan yang timbul dari lingkungan digital sangat penting dalam merumuskan strategi penanganan yang efektif.
Peran Teknologi dalam Mengatasi Kecemasan
Teknologi menawarkan banyak solusi untuk menangani masalah kecemasan, memungkinkan individu untuk mendapatkan bantuan yang lebih mudah diakses. Hal ini penting mengingat hanya sekitar 20 persen penderita gangguan kecemasan yang mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Konsultasi jarak jauh atau telepsikiatri menjadi salah satu cara yang efektif dalam memenuhi kebutuhan ini. Metode ini tidak hanya membuat aksesibilitas lebih baik, namun juga memberikan privasi bagi mereka yang merasa tidak nyaman dengan kunjungan langsung ke klinik.
Terapi berbasis internet juga menunjukkan hasil yang signifikan dalam membantu mereka yang mengalami kecemasan. Dengan menggunakan aplikasi yang dirancang khusus, individu dapat menjalani terapi kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kenyamanan mereka.
Virtual Reality Exposure Therapy (VRET) adalah terobosan terbaru yang memberikan pasien kesempatan untuk berlatih menghadapi situasi yang menakutkan dalam ruang yang terkendali. Metode ini membuat terapi menjadi lebih interaktif dan efektif.
Tantangan dan Peluang di Era Digital
Meski manfaat teknologi di bidang kesehatan mental sangat menjanjikan, kita juga harus waspada terhadap berbagai tantangannya. Satu isu utama adalah kualitas hubungan antar manusia yang sering terkompromikan dalam interaksi digital.
Aspek etika dan privasi data juga tak bisa diabaikan. Dalam dunia yang semakin terhubung, menjaga kerahasiaan informasi pasien harus menjadi prioritas utama di setiap platform kesehatan mental berbasis teknologi.
Sebagai penyedia layanan kesehatan mental, kita perlu mengadvokasi penggunaan teknologi dengan bijaksana. Hal ini termasuk memahami dan mengakomodasi perbedaan budaya dalam penggunaan teknik terapi yang ada.
Akhirnya, kolaborasi antara profesional kesehatan mental dan ahli teknologi sangatlah penting. Kerjasama ini akan memastikan bahwa pendekatan yang diambil tidak hanya efisien, tetapi juga etis dan relevan dengan konteks lokal.




